SELAMAT DATANG

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN NYA

Minggu, 24 Juli 2011

Air Panas Galunggung


AIR PANAS  GALUNGGUNG


  Luncuran air bergemuruh menghantam batu-batuan dibawahnya, sungguh paorama menakjubkan untuk dilihatnya, Tiara dan kedua temannya bergegas mendekatinya, setelah menyimpan ransel dan menggulung celana jeans nya. Air terjun yang indah dikelilingi bebatuan yang menjulang tunggi, dihiasi pepohonan menjadi kian eksotis dipandangnya.

Dalam langkahnya Tiara tak sengaja menginjak sesuatu didalam air, “ikan” !!!, ko bisa ada ikan ya, padahal di air panas ga da ikannya, ikannya lumayan gede-gede lagi, gumam Tiara, “cukup untuk tambahan lauk buat bertiga , “ tuh !..,aliza, temannya menunujuk didekatnya kelihatannya masih ada lagi ikan yang sempoyongan kayanya gampang ditangkap pakai tangan “ katanya lagi santai “.
Maaf mbak , itu ikannya punya kami . kata seorang lelaki menghampiri ditemani 2 orang lainnya. “ ini dia ikan yang lepas kata temannya lelaki tersebut .
Tiara, Aliza dan Tania, teman satunya lagi, menoleh ke belakang sambil memegang ikan ditangannya. Dengan berusaha berdiri, maafya.!!! Kayanya kami tangkap, tidak tahu, kata Tiara mewakili.
Lelaki itu tersenyum , “ oh …………..ga apa-apa”kalau kalian mau silakan ya!, kami ikhlas koq, kata lelaki tersebut sambil melihat kedua temannya yang menggunakan kepala tanda setuju.
“oh……….nggak, terima kasih,” maaf yach…….!! Tiara menyerahkan ikan-ikan yang dikumpulkan dari teman-temannya itu. Malu rasanya harus mengambil kepunyaan orang lain, apa lagi gak seberapa yang pasti dosa hukumnya, kata Tiara dalam hatinya.
“ya udah kalau gitu , gimana kalau bakar ikannya dan kita makan rame-rame”, kata lelaki itu mengusulakan. “ya, kami setuju “ kata teman-teman yang lain “gimana? Bisa gak?” lelaki itu menambahkan.

Tiara, Aliza dan Tania saling menatap , “gimana, bisa gak?”, kata lelaki itu mengulangnya. Dengan memberanikan diri, Tiara pun menjawab, “oh….terimakasih atas ajakannya, gimana ya?Tiara memang serak, “ kami semua bawa perbekalan dari rumah , mohon maaf atas kejadian ini, kami semua mau meneruskan kelilingnya”.

Segera Tiara dan ke2 temannya mengambil ransel disampingnya dan pamitan untuk meneruskan kelilingnya dan pergi meninggalkan ketiga lelaki itu.
Dalam perjalananya, ketiga sahabat ini mengobrol kesana-kemari diselingi cnda, tawa, sambil saling pegangan tangan dengan yang lainnya supaya tidak terbawa arus air yang semakin lama semakin kuat tekanan arusnya.

“wah, bagaimana kalau mereka itu jahat-jahat ya, kita bertiga, mereka pun bertig, takutnya terjadi apa-apa seperti di film-film.”kata Tania khawatir, “ ya ngga lah…” jawab Aliza meyakinkan.”iya tidak semua orang berfikir negatif, bertindak senonoh, terlebih buat kita sebagai wanita muslimah harus menjaga sikap kita dong, ya minimal tidak mengumbar aurat, apalagi jalan-jalan dan mandi berduaan dengan lawan jenis di tempat seperti ini, kata Tiara menjelaskan.” Astaghdirullahaladzim, naudzubillahimin dzalik”sambut Aliza dan Tania.
Tak terasa perjalanan sudah agak jauh, mereka istirahat sambil makan-makan yang dibawanya dari rumah, selesai makan, Tiara mengambil ransel dari sakunya, difoto situasi sekelilingnya,tak kelinggih Tiara dan Aliza pun
“Naik yu”kata Tania, setelah dirasa cukup puas, Tiara dan Aliza pun mengiyakan naik dari air panas galunggung tersebut. Sesampaiya di sana, mereka langsung dengan ketiga lelaki tadi lagi.”Assalamualaikum, wawan”kata lelaki itu memperkenalkan diriny, disusul Aji, dan kedua temannya itu.mereka pun saling berkenalan, malahan tukeran nomor hape segala.

Setelah dirasa cukup perkenalannya, mereka pun berpisah, Wawan, Ajiz dan Zaen terus saja mengobrol, siapa lagi kalau bukan Tiara temannya yang menjadi topik pembicaraan nya”cantik-cantik juga ya orangya……….?” Kata zaen sambil tersenyum, “iya” jawab Ajiz serius, “ya …okelah, tapi orangnya orang nya baikan gue?” tanya Wawan dengan lirih dan penuh penampila sikapnya, tapi belum tentu juga sih”, kata Ajiz sambil garuk-garuk kepala ,” tapi ternyata “, “kita kan punya nomor hape nya, jadi kita bisa lebih mngenal lagi mereka”
“iya saya setuju “ kata zaen, Alhamdulillah, tidak terasa akhirnya kita sampai juga di tempat yang di tuju” kata Wawan dengan semangat dan bahagia.
Semenjak perkenalan itu, wawan sering sekali menghubungi Tiara, baik melalui sms maupun nelepon langsung. Tiara pun merespon baik dan menyambut hangat setiap sambut padanya.
Suatu ketika, Tiara dipanggil ibunya ke ruang tamu untuk menjamu tamu yang datang kerumahnya. “iya ibu..” jawab Tiara dari ruang belajar, ia pun berdiri dari meja belajarnya menuju dapur, kemudian ia daang dengan membawa baki ditangan dan dipenuhi gelas berisi air dan beberapa kaleng kue yang ada disampingya di ruang tam, Tiara kaget melihat tamu yang datang.”
“Tiara” ujar Wawan,
“ iya, rumah saya, ini ibuku “jawab Tiara meninggalkan ibunya.
“ wah, kalian sudah saling mengenal ya?”ujar seorang bapak disamping Wawan dengan ramah.
“ini bapak ku”kata Wawan mengenalkan.
“kalian kenal di mana?” kata ibunya Tiara dengan lemah lembut .
“ saya” dengan kompak keduanya menjawab, Tiara pun tersipu malu.
“ kami pernah ketemu waktu di air panas galunggung “jawab Wawan menjelaskan .
“oh……..syukurlah kalau kalian sudah pada kenal , kata ibunya Tiara sambil memegang tangan yang mengelus-ngelus ujung baki yang dibawanya .
“wah , ternyata anak kita sudah pada kenal “ tambahkan bapaknya Wawan sambil tersenyum.
“kang Nana!!! , bapaknya disana baik-baik saja disana kan?”tanya ibunya Tiara cemas.
“iya Alhamdulillah Oman disana baik-baik saja”, jawab paman Nana sambil minta ijin untuk minum.
“ paman!!!mohon maaf sebelumnya , paman ini teman kerjanya bapak di Bandung?”tanya Tiara memberanikan diri ikut nanya.
“iya……..” jawab paman Nana sambil menganggukan kepala.
“ oh ya, kang Nana tujuannya kesini ada apa ya?” tanya ibunya Tiara penasaran.
“oh…..jadi begini……akang mau jemput Wawan yang lagi liburan disini, jadi Oman nyuruh akang sekalian bawakan barang titipannya buat Tiara”katanya sambil menyerahkan barang bawaannya.
“oh iya, terima kasih, saya terima kirimannya” kata ibunya Tiara sambil tersenyum .
Sekian lama mereka ngobrol dengan akrabnya, akhirnya paman Nana, Wawan pun pamit untuk pulang lagi ke bandung. Kepergian mereka diiringi tatapan senyum Tiara yang selintas dapat dimengerti oleh Wawan yang memperhatikannya.
Setelah mereka hilang dari pandangan, Tiara dan ibunya bergegas masuk lagi de rumahnya.
“Wawan itu lagi maen ke rumah temennya, sekalian liburan”kata ibunya membuka pembucaraan .
“oh………..”dengan singkat Tiara merespon ibunya.
“iya, kalau kamu suka ibu juga setuju”, kata ibunya pengertian .
“ih ibu”Tiara pun memerah pipinya, karena malu ketahuan oleh ibunya .
“ibu juga pernah muda, ibu mngerti apa yang kamu rasakan “ kata  ibunya meyakinkan .
“bu…….?”tanya Tiara.
“iya”.jawab ibunya.
“boleh gak aku pacaran?” tanya Tiara pelan sambil menunuduk.
“ya, boleh, kamu kan udah lulus sekolah,sudah dewasa “, kata ibunya sambil mengelus-ngelus rambut anaknya.
“tapi ingat ! jangan melampaui batas, jaga harga diri dan kehormatanmu.”, kata ibunya menegaskan.
“iya bu..terima kasih” ucap Tiara sambil memeluk dan mencium ibunya.
“iya,iya kamu bisa telepon-teleponan, smsan, ibu rasa itu sudah cukup”jelas ibunya.
“iya.iya”, jawab Tiara dengan senang.
Wawan sudah lulus kuliah, walaupun penghasilannya tidak seberapa, tetapi cukup untuk orang yang baru merintis usahanya secara mandiri. Sampailah pada hari yang dinanti-nantikan. Dia diemui seluruh keluarganya, memingang Tiara dan tidak lama lagi akan melangsungkan pernikahan .
Penantian Tiara yang merindukan hari yang spesial buat dirinya, hari yang sakral, hari dimana dia membuka lembaran baru dalam hidupnya, yang menjadi titik awal mengarungi samudra hidup berumah tangga akhirnya kesampaian juga.

Cerita ini fiktif dan rekayasa belaka, apabila ada kesamaan nama,tokoh,tempat peristiwa , karakter itu hanyalah kebetulan semata, tidak ada kesengajaan di dalamnya.

Tidak ada komentar: